Kamis, 16 Juli 2009

LACUBA (LAMPU CELUP BAWAH AIR)

LACUBA

Lacuba (Lampu Celup Bawah Air) merupakan lampu yang dipakai dalam air untuk menarik perhatian ikan. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Peristiwa ikan tertarik pada cahaya disebut fototaksis (Ayodhyoa, 1976 ;1981). Dengan demikian, ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis, yang umumnya adalah ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fotophobi. (ada pula yang menyebutnya fototaksis negatif seperti Gunarso, 1985).

Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Dengan demikian, kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang senang pada intensitas cahaya yang rendah, tetapi ada pula ikan yang senang pada intensitas yang tinggi. Namun ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai intensitas yang tinggi.
Peristiwa berkumpulnya ikan dibawah cahaya dibedakan sebagai berikut :
1. Peristiwa langsung, yaitu ikan-ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul di sekitar cahaya.
2. Peristiwa tidak langsung , yaitu karena ada cahaya, maka plankton, ikan-ikan kecil, dan ikan-ikan yang ertarik pada cahaya berkumpul lalu ikan yang menjadi target penangkapan datang dengan tujuan untuk mencari makan.

Di pasaran, lacuba ini dijual dengan harga yang relatif mahal yaitu berkisar antara Rp 650.000,00 untuk yang menggunakan energi accu dan Rp 1.200.000,00 untuk listrik. Dengan demikian para nelayan mengambil inisiatif membuat lacuba dengan peralatan sederhana yang menghabiskan modal sekitar Rp 150.000,00 untuk lacuba menggunakan accu dan Rp 250.000,00 untuk listrik sehingga sangat mengirit biaya operasional. Dan yang terpenting alat yang dirakit sendiri ini tidak mengurangi fungsi dan kemaksimalan daya kerjanya dibandingkan dengan alat yang telah dipasarkan oleh pabrikan.
ALAT DAN BAHAN
Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan lacuba sederhana sebagai berikut :
 Jenis lampu : Bola pijar 200 Watt
 Dudukan lampu : Piting batu
 Kerangka/pemberat : Kerangka yang terbuat dari besi
 Selang 1 ¼ “ : 10 cm
 Kabel : 15 meter
 Dimmer : 1 unit
 Steker : 1 buah
 System kedap air : seal silikon ruber / damar / lem dexton

PERAKITAN LACUBA
Lacuba dirakit dengan cara sebagai berikut :
1. Dudukan lampu (piting batu) disambungkan dengan wayer yang telah tersambung dengan steker dan dimmer lalu dipasangi dengan selang dari atas dan selanjutnya dilekatkan dengan getah damar agar tidak masuk air ketika dioperasikan.
2. Lalu bola pijar dipasang pada dudukan lampu (piting batu) dan selanjutnya dilekatkan dengan lem dua ton agar tidak kedap air.
3. Setelah dudukan lampu dan bola pijar terpasang menjadi satu maka tahap selanjutnya dipasangkan pada rangka besi yang berfungsi sebagai pelindung lacuba sekaligus sebagai pemberat.
4. Lacuba siap dioperasikan.





Minggu, 12 Juli 2009

ANATOMI IKAN

ANATOMI IKAN

APA ITU IKAN ?

Ikan adalah hewan bertulang belakang yang berdarah dingin, hidup dalam lingkungan air, pergerakan dan kesetimbangannya terutama menggunakan sirip, dan bernafas dengan insang (Raharjo, 1980). Menurut Nybakken (1986), ikan adalah salah satu jenis nekton bahari yang menduduki posisi penting dalam lingkungannya. Fujaya (2004), memberikan definisi yang lain, ikan adalah binatang bertulang belakang yang hidup di dalam air dan bernafas dengan insang.

Dalam golongan vertebrata, ikan mempunyai jumlah spesies yang paling banyak, berkisar lebih kurang 20.000 spesies. Bahkan ada yang menduga sekitar 40.000 spesies. Dengan jumlah yang demikian besar itu, ikan akan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan tempat hidupnya.

Beberapa kelompok ikan yang berbeda dapat dijumpai dalam golongan nekton. Pertama, ikan yang menghabiskan seluruh waktu hidupnya di daerah epipelagig. Ikan ini disebut holoepipelagik memcakup beberapa ikan hiu tertentu, ikan terbang, ikan tuna, ikan lemuru, cucut, dan lain-lain. Ikan ini biasanya menghasilkan telur yang mengapung dan larva epipelagik. Jumlahnya sangat berlimpah di permukaan perairan tropik dan subtropik. Kelompok kedua adalah ikan-ikan yang menghabiskan sebagian dari hidupnya di daerah epipelagik, yang disebut meroepipelagik. Kelompok ikan ini lebih beragam dan mencakup ikan yang menghabiskan masa dewasanya di epipelagik tetapi memijah di perairan pantai atau perairan tawar. Ada juga yang masuk daerah epipelagik pada waktu-waktu tertentu.

BENTUK TUBUH IKAN

Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Misalnya, sebagai hewan air ikan harus dapat mengetahui kekuatan maupun arus laut, karenanya ikan dilengkapi dengan organ linea lateralis.

Menurut Saanin (1968), untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan sifat-sifat, tanda-tanda, dan bentuk atau bagian dari tubuh ikan. Sirip ikan adalah hal pertama yang harus diperhatikan dalam proses identifikasi. Setelah itu, perbandingan antara panjang, lebar, tinggi bagian tubuh ikan. Bentuk garis rusak dan jumlah sisik yang membentuk garis rusak, bentuk gigi beserta susunannya, dan tulang insang juga perlu diperhatikan.

Gambar 2.1 Bentuk dan bagian tubuh ikan secara umum (Majid, 2004)


Gambar 2.2 Bentuk dan bagian tubuh ikan hiu secara umum (Majid, 2004)


Gambar 2.3 Bentuk dan bagian tubuh ikan pari secara umum (Majid, 2004)


Gambar 2.4 Warna dan tanda tubuh ikan secara umum (Majid, 2004)

Jenis-jenis ikan dasar perairan memiliki paling banyak keragaman bentuk diantara jenis ikan lainnya untuk beradaptasi. Kebanyakan mereka berkepala gepeng dengan bentuk mulut bermacam-macam, tergantung dari letak makanannya. Sirip yang paling banyak berperan adalah sirip perut untuk menjaga keseimbangan tubuh pada saat berada pada dasar perairan. Pergerakan yang dilakukan sangat minim, sehingga sirip-sirip lainnya tidak begitu berperan (Moyle dan Cech, 1988, disintasi oleh Yustiana, 2004).

Bentuk predator aktif adalah bentuk ikan yang paling banyak dikenal orang, yaitu dengan bentuk mulut diujung kepala dan ekor bulan sabit. Umumnya dapat bergerak sangat cepat untuk bermigrasi dan menangkap mangsa, misalnya adalah ikan tuna, hiu, dan kakap (Raharjo dan Sanusi, 1982).

BENTUK GIGI IKAN


Gambar 2.5 Bentuk gigi ikan secara umum (Majid, 2004)

BENTUK MULUT IKAN


Gambar 2.6 Bentuk mulut ikan secara umum (Majid, 2004)

BENTUK EKOR IKAN


Gambar 2.7 Bentuk sirip ekor ikan secara umum (Majid, 2004)

BENTUK TUBUH IKAN

Menurut Raharjo (1980), secara garis besar bentuk-bentuk tubuh ikan dapat dikelompokkan kedalam bentuk sebagai berikut :

1. Pipih mendatar

Bentuk ini umumnya terdapat pada ikan yang berbentuk lidah dan tergolong sebagai ikan non bilateral simetri.

2. Terpedo/Streamline

Tinggi tubuh ikan hampir sama dengan lebarnya dan kedua ujungnya hampir meruncing apabila jenis ikan ini dilihat dari depan maka akan menyerupai lingkaran yang sempurna.

3. Pipih (Compressed)

Tubuh ikan berbentuk pipih tetapi tidak berbentuk datar, mulai dari kepala sampai batang ekor. Lebar tubuhnya lebih pendek dari tingginya, ikan tersebut berbentuk pipih secar vertikal.

4. Pipih (Depressed)

Tubuh ikan berbentuk pipih secara horizontal, lebar tubuh lebih panjang dari tingginya. Contohnya adalah ikan pari (Aetobatis narinari).

5. Bentuk ular

Tubuh ikan berbentuk bulat memanjang seperti ular dengan ukuran panjang tubuh dapat mencapai duapuluh kali tingginya. Contohnya adalah Congresox talabon

6. Bentuk pipa

Tubuh ikan ini berbentuk bulat panjang seperti bentuk pipa. Contohnya adalah ikan Snipeel/cucut telinga buaya.

7. Bentuk pita

Tubuh ikan berbentuk pipih mendatar, memanjang ke belakang, dan hampir menyerupai bentuk pita. Contohnya adalah ikan layur (Trichiurus savala)

8. Bentuk panah

Tubuh ikan berbentuk seperti anak panah, kepala lancip atau meruncing, badan memanjang kebelakang dengan bentuk yang hampir seimbang dan ekor bercagak. Contohnya adalah ikan alu-alu/todak (Sphyraena jello)

9. Bentuk Bola

Apabila sedang mengembang, bentuk tubuhnya akan menyerupai bola. Contohnya adalah ikan buntal (Diodon histrik)

10. Bentuk Kotak

Bagian kepala dan badan ikan hamper menyerupai kotak segi empat. Contohnya adalah ikan buntal (Tetraodon Sp.).

11. Bentuk kepala picak dan badan pipih (bentuk seperti lele)

Ikan ini mempunyai bentuk kepala hamper pipih mendatar secara horizontal dan badannya berbentuk compressed. Contohnya adalah ikan lele (Clarias batrachus).

Pemanasan Global (Global warming)

Istilah pemanasan global atau dalam bahasa inggrisnya Global Warming sudah tak asing lagi bagi kita bahkan menjadi momok yang amat menakutkan bagi sebagian orang. Pemanasan global dapat diartikan sebagai kejadian meningkatnya suhu atmosfer, laut, dan daratan yang di akibatkan oleh meningkatnya kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer. Karbondioksida (CO2) dalam jumlah yang berlebihan di atmosfer dapat meningkatkan suhu karena terjadi efek rumah kaca karena dapat menyerap panas dalam jumlah besar. Selain unsur karbon, gas Metana juga berkontribusi dalam pemanasan global karena menyerap panas dalam jumlah besar bahkan mencapai 21 kali lebih besar dari karbon.

Istilah efek rumah kaca sendiri diambil dari cara tanam yang digunakan para petani di daerah iklim sedang (negara yang memiliki empat musim) dan saat ini juga telah mulai diterapkan di Indonesia. Para petani biasa menanam sayuran atau bunga di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan tetap hangat. Prinsipnya adalah sebagian besar sinar matahari yang masuk melalui media kaca atau plastik akan terperangkap dalam rumah kaca tersebut sehingga ruangan tersebut selalu hangat.

Saat ini sudah banyak efek dari pemanasan global yang dapat kita lihat, diantaranya adalah perubahan iklim, meningkatnya bencana alam seperti banjir yang diakibatkan oleh jumlah curah hujan yang berlebihan, mencairnya glister di daerah kutub yang dapat mengakibatkan naiknya permuakaan air laut, perubahan musim tanam petani, dan masih banyak lainnya. Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.


Nah, kita telah membahas apa itu pemanasan global dan efeknya. Sejauh ini sudah banyak usaha-usaha yang telah dilakukan untuk menekan pemanasan global terutama dalam konferensi internasional seperti konferensi kyoto, konferensi Bali, dan baru-baru ini konferensi yang akan di adakan di Manado yang bertemakan laut. Namun sangat disayangkan Amerika Serikat sebagai penghasil CO2 terbanyak didunia terlihat abai dalam mengatasi pemanasan global terlihat dengan tidak ditandatanganinya perjanjian kyoto di Jepang.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia adalah salah satu negara yang terkena efek pemanasan global yang amat besar. Diantaranya adalah kita akan kehilangan pulau-pulau kecil akibat naiknya permuakaan air laut akibat pencairan es di kutub. Selain itu meningkatnya bencana alam seperti banjir, angin puting beliung, topan, perubahan musim tanam, dan lainnya.

Peternakan dan pertanian juga diisukan sebagaai penyumbang pemanasan global yang besar terutama peternakan sapi yang menghasilkan metana dan pertanian yang menggerus lahan hutan. Tentunya hal tersebut sangat bertentangan dengan pemenuhan kebutuhan pangan manusia yang cenderung terus meningat. Sebenarnya hal tersebut bisa di atasi walau tidak sepenuhnya. Diantaranya adalah dengan bertani dan beternak terintegrasi. Contohnya adalah peternakan sapi yang dipadukan dengan kebun jati atau kebun sengon (Hutan Tanaman Rakyat). Atau kebun jati/sengon dipadukan dengan penanaman palawija. Pohon jati atau sengon yang di tanam akan menyerap karbondioksida dalam jumlah besar sehingga dapat mengurangi jumlah karbondioksida yang naik ke atmosfer. Fungsi hutan tanaman rakyat mirip dengan hutan asli namun dapat dimanfaatkan, bernilai ekonomis, dan dikelola oleh masyarakat.

Pohon sengon merupakan pohon serba guna. dari mulai daun, perakaran, dan kayunya untuk berbagai keperluan. Daun sengon dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena mengandung protein tinggi. Perakarannya dapat meningkatkan penyerapan air dan batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu lapis, pulp, furniture, dan lainnya. Begitu juga dengan jati. Dari tahun ketahun kayu jati da sengon terus meningkat harganya seiring dengan pembatasan dan larangan pemanfaatan hutan asli.

Di sela pepohonan jati/sengon dapat ditanam palawija, rerumputan sebagai pakan ternak atau melepaskan ternak dengan sistim gembala. Dengan cara ini pendapatan petani akan semakin meningkat dan mencegah pemanasan global. Dengan demikian masyarakat tani tidak menjadi korban dalam isu pemanasan global yang sebenarnya di akibatkan oleh negara-negara industri seperti USA dan Uni Eropa.

Diharapkan dengan meningkatnya jumlah lahan Hutan tanaman rakyat akan mengurangi perambahan hutan asli, meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, mengurangi efek pemanasan global, dan meningkatkan jumlah lapangan kerja.

DI LAUT KITA (BELUM) JAYA

INDONESIA adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau terbanyak di dunia (17.504) dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia setelah Australia. Selain keunggulan tersebut, alam Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar di dunia . Sungguh tuhan telah memberikan anugrah yang amat besar kepada bangsa ini.Luasnya kepulauan Indonesia menyimpan begitu banyak sumberdaya alam di perut bumi ini. Gas alam, minyak, emas, potensi perikanan tangkap dan budidaya, rumput laut, kekerangan, terumbu karang, dan masih banyak lainnya. Setiap waktu, siang dan malam nelayan Aceh melaut untuk mencari ikan di laut nan luas.Ironisnya, kekayaan laut Aceh sepertinya belum dapat memberikan kehidupan yang baik bagi masyarakat nelayan.

Kemiskinan sepertinya semakin identik dengan masyarakat nelayan, seakan kekayaan laut kita tak berharga. Padahal, hasil laut kita sangat berharga di pasar Internasional, seperti ikan tuna, sirip hiu, tenggiri, kerapu, kakap, lobster, dan masih banyak jenis ikan lainnya.Saat angin kencang dan gelombang tinggi di laut, harga ikan merangkak ikut naik karena nelayan tidak bisa melaut. Sebaliknya, di saat hasil tangkapan nelayan melimpah, harga ikan justru menurun drastis. Keadaan tersebut tentunya sangat menyedihkan bagi para nelayan kita, karena selalu tidak menguntungkan mereka secara ekonomi.

Selain nalayan, masyarakat Aceh sebagai konsumen juga ikan terpengaruh. Terkadang mereka membeli ikan sangat mahal dan di waktu yang lain membeli dengan harga yang amat murah.Saat hasil laut melimpah, seharusnya nelayan mendapat kesejahtraan. Dimana hasil laut mereka dapat dibeli dengan harga yang pantas. Bukan dengan harga yang sangat murah sehingga jumlah ikan yang banyak tak membawa arti bagi masyarakat nelayan. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh minimnya teknologi dan fasilitas perikanan yang ada saat ini. Jika ikan tidak segera dijual ke pasar maka kualitas ikan akan menurun sehingga harga ikan juga ikut menurun.

Sebenarnya, ikan tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama jika nelayan kita mempunyai fasilitas yang memadai, seperti coolstory (gudang pendingin). Selain itu, pemerintah juga harus mencarikan pasar baru, baik sekala regional maupun internasional agar ikan-ikan yang ditangkap oleh nelayan kita dapat diserap pasar dengan harga yang dapat mensejahtrakan nelayan.Sudah seharusnya pemerintah Irwandi segera membangun sektor perikanan Aceh, baik sektor perikanan tangkap maupun sektor budidaya. Pascatsunami, banyak sekali bantuan untuk Aceh, termasuk sektor perikanan, berupa bantuan bot dan rehabilitasi tambak walaupun belum semua nelayan yang terkena musibah tsunami terbantu.Seharusnya, dana yang dimiliki BRR, Pemerintah Aceh, dan NGO yang beredar di Aceh saat ini dapat mensejahtrakan masyarakat, khususnya nelayan yang paling banyak terkena musibah tsunami. Selain peningkatan produksi perikanan, pemerintah juga harus memikirkan faktor pendukung, peningkatan skill masyarakat sebagai pelaku perikanan, dan pasar untuk meningkatkan harga jual perikanan.Saat ini, bantuan tersebut belum sepenuhnya memperbaiki taraf ekonomi masyarakat nelayan karena sektor pasar perikanan yang belum terbangun dan tertata dengan baik. Misal, TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di Lampulo, Banda Aceh yang seharusnya menjadi tempat para pedagang ikan membeli ikan untuk dijual kembali di pasar. Kini konsumennya semakin meluas. Tak jarang ibu-ibu rumah tangga dan pedagang eceran melakukan transaksi jual beli di TPI.Padahal, pedagang ikan eceran dan konsumen kecil telah disediakan tempat transaksi tersendiri oleh pemerintah. Seperti, pasar Penayong, pasar Setui, pasar Ketapang, dan pasar-pasar lainnya. Keadaan tersebut sangat merugikan pedagang pasar, selain kehilangan konsumen mereka juga telah membayar uang restribusi pasar kepada pengelola.

Pasar Tuna

Sejak tahun 2005, Indonesia resmi menjadi negara anggota perdagangan tuna dunia. Sebelumnya jika kita menangkap ikan tuna di perairan Internasional maka kita akan dianggap sebagai sebagai pelaku illegal fishing. Hal tersebut memberikan angin segar bagi pengusaha perikanan Indonesia, namun tidak bagi masyarakat nelayan, terutama nelayan Aceh dengan segala keterbatasannya (kapal, fasilitas, dan teknologi).Sekjen Panglima Laot Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, M. Adli Abdullah, pada rabu, 26 maret 2008 mengatakan: pemerintah pusat seharusnya ikut melibatkan Aceh dalam perdagangan tuna dunia. Pasalnya, perairan Aceh merupakan salah satu wilayah penangkapan tuna terbesar di Indonesia yang menghasilkan pajak.Pada tahun 2007, Indonesia telah mendapatkan Rp1,4 triliun dari hasil pajak perdagangan tuna.

Seharusnya, sumberdaya perikanan tangkap yang ada di Aceh dapat mensejahtrakan masyarakat nelayan.

Sebagai lembaga yang mewakili nelayan Aceh, seharusnya tidak saja memperjuangkan keikut sertaan Aceh dalam perdagangan tuna, namun juga meningkatkan kesejahtraan masyarakat Aceh. Isu teknologi, fasilitas, keterampilan paska penangkapan, dan lainnya lebih di kedepankan. Kalau permasalahan tersebut tidak segera diatasi, maka keikutsertaan Aceh dalam perdagangan Tuna dunia akan sia-sia karena tidak memberikan dampak pada nelayan.Jika nelayan Aceh tidak segera dibenahi dari segi armada dan teknologi penangkapan, maka di masa yang akan datang nelayan kita akan semakin tersingkir. Selama ini armada yang dipakai nelayan untuk menangkap ikan di laut lepas masih terbatas jumlah dan teknologinya, sehingga nelayan masih menerapkan cara penangkapan tradisional. Sehingga jumlah tangkapan pun tidak maksimal, serta mereka harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk biaya operasional penangkapan karena masih harus mencari tampa bantuan teknologi.

Illegal fishing

Selain permasalahan fasilitas, teknologi, dan kondisi pasar, nelayan Aceh juga di hadapkan pada permasalahan illegal fishing (penangkapan ikan secara illegal). Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menargetkan kerugian akibat penangkapan ikan secara ilegal, tahun 2005 berkurang hingga di bawah Rp20 triliun. Selama ini, kerugian akibat kegiatan ilegal tersebut mencapai Rp30 triliun per tahun. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, kemungkinan penurunan terjadi karena DKP mulai melakukan penertiban terhadap aktivitas illegal fishing (Rabu, 24 Agustus 2005, Tempo).Walaupun selama ini pemerintah telah melakukan penertiban namun dirasa kurang maksimal. Keterbatasan dana dan peralatan menjadi hambatan yang paling mendasar dalam penegakan kedaulatan kita di laut. Penderitaan itu makin ditambah dengan adanya pemotongan anggaran dana sebesar 15% pada tiap departemen oleh pemerintah, sehingga alasan keterbatasan dana dan peralatan bisa semakin diperpanjang untuk melindungi kedaulatan kita di laut.Jika pemerintah mau segera meningkatkan patroli laut untuk mengatasi illegal fishing, penyelundupan kayu, dan penyelundupan lainnya melalui laut, bayangkan berapa dana yang akan di hemat pemerintah. Selain itu, pemerintah juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pribumi melalui pencegahan penyelundupan dan illegal fishing. Dari sektor perikanan saja, per tahunnya Indonesia dapat mengirit 20 triliun jika illegal fishing dapat diatasi. Belum lagi berbagai produk ekspor dan impor yang keluar masuk secara illegal. Semoga saja kita jaya di laut sendiri.

SAFRIZAL PUTRA ; Kelautan Unsyiah, Peserta Seuramoe Teumuleh II dan SiswaMenulis Dokarim IV, dan aktif di organisasi masyarakat nelayan.

Buet-buet Soet Sabe

Hai nyak, bek kapeged buet-buet soed sabe. Pue hana bud laen?”, tentunya sering orang tua kita mengatakan demikian. Kalimat tersebut terucap ketika mereka kesal melihat hal-hal yang sangat biasa kita lakukan dan cendrung itu-itu saja. Baik dalam hal kecil dan sepele hingga hal yang rumit. Biasanya kita larut dalam perihal tersebut hingga tak sadar kalau kita telah berulang kali melakukan hal itu-itu saja tanpa memberikan manfaat yang berarti dari apa yang kita lakukan. Lebih menyedihkan lagi jika hal itu dilakukan dengan sadar.

Entah apa yang kita pikirkan saat ini? Adakah sebuah kenikmatan dalam hal tersebut atau memang itu-itu saja yang wajib kita lakukan selama ini? buet-buet soed sabe sepertinya sudah menjadi keseharian kita selama ini. Dari penyelenggaraan syariat islam, rekontruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias, hingga penyelenggaraan layanan publik oleh pemerintah.

Saat ini sepertinya kita hampir mirip dengan kerbau. Bukan dari bentuk tubuh ataupun bau tapi dari segi tingkah laku dan pemanfaatannya. Di pabrik batu-bata tradisional contohnya, kerbau digunakan untuk menginjak-injak tanah liat agar adonannya baik digunakan untuk batu-bata dan akhirnya sang majikan mendapatkan keuntungan dari pekerjaan si kerbau. Kalau saja sang kerbau di buka matanya saat bekerja dan diberi kelebihan oleh Tuhan untuk berfikir maka ia akan berontak karena merasa pening mengitari satu titik dan itu-itu saja.

Dulu sering kita mendengar kalau bangunan yang akan dibangun di Aceh akan tahan gempa. Nyatanya, sering pula kita menonton dan membaca berita kalau masyarakat banyak yang kecewa karena rumah yang dibangun retak-retak. Baik sebelum dihuni maupun setelahnya. Disebagian daerah lebih menyedihkan lagi, rumah-rumah bantuan yang dibangun terbengkalai karena kontaraktor berotak kotor kabur dari kewajibannya.

Musibah gempa sudah menjadi rutinitas yang terjadi di Aceh, tentunya para ahli sepakat dengan hal itu karena Aceh terletak pada lempeng bumi yang amat mudah bergerak, dan juga kita masyarakat Aceh yang sering merasakannya. Bukankah ini buet-buet soed sabe ketika rumah masyarakat di kabupaten Simelu harus di bangun kembali karena telah rusak akibat gempa baru-baru ini?

Tak salah jika kita harus membangun kembali, toh kita menikmatinya bukan? Banyak pihak yang akan di untungkan dari setiap musibah di Aceh, pihak penyelenggara, kontraktor, hingga masyarakat yang mendapat pekerjaan dari Rehabilitasi dan Rekontruksi itu. Namun sangat disayangkan, masyarakat yang seharusnya kita bantu hanya menjadi sebuah objek program-program yang kita laksanakan selama ini. Tak jarang hak-hak mereka terabaikan bukan?

Sungguh menyedihkan ketika sebuah pernyataan dari seorang pejabat: rumah yang di bangun di Aceh akan tahan gempa dengan kekuatan 6,3 sekala richter. Padahal mereka tahu kalau gempa yang terjadi di Aceh bisa lebih dari itu. Pertanyaan soed kembali timbul di dalam benak kita tentunya. Apakah rumah yang akan di bangun di Simelue nanti dengan kekuatan yang sama atau dibawahnya? Kalau benar demikian maka Rehabilitasi dan Rekontruksi di Aceh tak akan pernah berakhir karena kita berada pada zona yang amat rawan gempa. Lagi-lagi buet-buet soed sabe bukan?

Tidak mengherankan jika mahasiswa dan masyarakat berdemontrasi. Demontrasi bukan sebuah hobi bagi mereka namun sebuah jeritan hati yang di keluarkan lewat aksi ketika kita menutup mata dan hati. Tak mengherankan jika sesekali berbuntut pada anarkisme seperti pada kasus pembakaran rumah bantuan beberapa waktu lalu. Bukan berarti saya membenarkan perbuatan anarkisme tersebut namun bisakah kita dan bapak ibu sebagai orang tua kami yang diberi amanah bertanya? Kenapa mereka melakukannya? Dan bisakah ini kita hindari di masa yang akan datang.

Dana rekontruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias yang jumlahnya trilyunan rupiah serta sejumlah dana besar yang dimiliki Pemerintahan Aceh seharusnya sudah dapat mensejahtrakan masyarakat di Aceh pasca musibah tsunami dan konflik. Bukan hanya membangun rumah yang soed-soed lom, membangun jalan Medan-Banda Aceh yang berulang-ulang, dan pemberdayaan masyarakat sepanjang abad.

Bukannya memberdayakan masyarakat tapi nyatanya mereka yang dititipkan amanah malah memperdaya masyarakat kita. Sebut saja kasus bantuan sapi untuk masyarakat di kabupaten Aceh Tengah. Masyarakat di perdaya dengan uang Rp 50.000,00 dengan imbalan sapi-sapi mereka harus menjadi model berpose di laporan para pemimpin kita. Padahal dalam program tersebut masyarakat diberdayakan dengan pembagian bibit sapi untuk meningkatkan ekonomi mereka. Syukur kasus ini segera di ketahui dan di usut. Mudah-mudahan segera tuntas dan masyarakat yang seharusnya di berdayakan yang kemudian diperdaya mendapat keadilan. Sangat banyak program pemberdayaan masyarakat yang di lakukan pemerintah dan LSM atau NGO di Aceh namun pada kenyataannya, sangat banyak yang tidak tepat sasaran atau bahkan tidak sampai kepada masyarakat.

Buet-buet soed sabe juga bisa kita lihat pada realita pembangunan jalan di Indonesia, khususnya di Aceh. Tak dapat dipungkiri kalau perbaikan jalan di Aceh seperti kita berobat menambal gigi tempo dulu. Sesudah di tambal, kembali akan meradang kesakitan dikemudian hari. Lihat saja realita perbaikan jalan di bukit seulawah yang di lakukan sepanjang tahun. Setelah dibuat mulus namun beberapa bulan kemudian jalan tersebut sudah compang-camping disana sini. Kemudian kembali di tambal sepanjang tahun. Hal ini tidak terjadi di jalan Medan-Banda Aceh di bukit Seulawah namun hampir di seluruh jalan di Aceh. Lagi-lagi buet-buet soed sabe bukan? Kalau saja jalan-jalan soed kita bangun lebih baik dengan keichlasan maka jalan-jalan di gampoeng tidak akan seperti jalan babi yang kami lalui selama ini.

Pertanian adalah tulang punggung perekonomian masyarakat Aceh selama ini. Dan area pertanian terletak di gampoeng-gampong. Namun sepertinya pemerintah abai terhadap keberadaan gampoeng dan aktifitas ekonomi mereka. Bagaimana coklat, kopi, sawait, karet, dan komoditas lainnya akan menyejahtrakan masyarakat Aceh kalau harganya murah cuma karena masalah transportasi yang tak bisa lewat di jalan babi? Padahal komoditas pertanian di Aceh punya harga yang amat baik dan mampu menyejahtrakan rakyatnya. Namun teriakan petani Aceh masih terdengar di sana-sini.

PLN dan PAM juga tak ketinggalan melakukan buet-buet soed sabe. Pelayanan listrik dan air minum yang memuaskan sepertinya hanya buaiyan janji belaka. Mulai pemadaman bergilir oleh PLN hingga pemadaman yang tak beraturan lagi. Ancaman denda dan penghentian layanan listrik dan air kepada konsumen acap kali kita dengar kalau mereka telat membayar tunggakannya. Namun pernahkan PLN dan PAM memenuhu kewajibannya kepada konsumen.

Pari alim dan ulama berpendapat jika iman kita tipis maka kita kurang terkendali. Dan tentunya kita sependapat dengan hal itu. Di sisi lain, lemahnya hukum menjadi hal yang asyik untuk melakukan buet-buet soed sabe. Salah satu solusi buet-buet soed sabe adalah memperketat hukum yang ada agar buet-buet soed sabe di kemudian hari tak berulang. Mudah-mudahan saja buet-buet soed sabe tak berulang lagi di masa akan datang.

By ; Safrizal Putra